Sabtu, 31 Oktober 2015

3 Tokoh Manajemen beserta teorinya

3 Tokoh Manajemen beserta teorinya
 
 
Tokoh Manajemen Frederick Winslow Taylor (1856 - 1915)
 
Frederick Winslow Taylor lahir pada tanggal 20 Maret 1856 dan meninggal pada tanggal 21 Maret 1915. Taylor adalah salah satu tokoh manajemen aliran klasik. Dia adalah seorang insinyur mekanik asal Amerika Serikat yang terkenal atas usahanya meningkatkan efesiensi industri. Ia dikenal sebagai bapak “manajemen informasi” dan pemimpin intelektual dari gerakan efesiensi. 
 
Frederick Winslow Taylor memperkenalkan teori:
  1.   scientific management,
 
Teori manajemen yang menganalisis dan mensintesis alur kerja dengan tujuan meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
 
Taylor mengatakan bahwa scientific management merupakan tugas setiap manajer untuk mengetahui hal yang terbaik (best of the best) melalui penganalisaan, observasi dan percobaan-percobaan.
 
Observasi yang dilakukannya antara lain:time and motion study
,organisasi fungsional dan the taylor differential rate system.
Taylor percaya bahwa keputusan berdasarkan tradisi dan aturan-aturan praktis harus diganti dengan prosedur yang tepat, yang dikembangkan setelah mempelajari kinerja individu di tempat kerja.
  •   Taylor mengemukakan empat prinsip Scientific Management, yaitu :
a.  Menghilangkan sistem coba-coba dan menerapkan metode-metode ilmu pengetahuan disetiap unsur - unsur kegiatan.
b.     Memilih pekerjaan terbaik untuk setiap tugas tertentu, selanjutnya memberikan latihan dan pendidikan kepada pekerja.
c.     Setiap petugas harus menerapkan hasil-hasil  ilmu pengetahuan di dalam menjalankan tugas.
d.     Harus menjalin kerja sama yang baik antara pemimpin dengan  pekerja.
 
Dalam menerapkan ke-empat prinsip ini, beliau menganjurkan perlunya revolusi mental dikalangan manajer dan pekerja.
 
Adapun prinsip-prinsip dasar menurut Taylor mendekati ilmiah adalah:
 
a. Adanya ilmu pengetahuan yang menggantikan cara kerja yang           asal-asalan. 
b. Adanya hubungan waktu dan gerak kelompok.
c. Adanya kerja sarna sesama pekerja, dan bukan bekerja secara                                  individual.
d. Bekerja untuk hasil yang maksimal.
e. Mengembangkan seluruh karyawan hingga taraf yang setinggi- tingginya, untuk tingkat kesejahteraan maksimum para karyawan itu sendiri dan perusahaan.
 
Teori Manajemen Manusiawi Hugo Musternberg
Seperti yang diketahui ilmu manajemen terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Seiringan majunya peradaban manusia, maka bermunculan berbagai aliran dengan pendekatan secara manusiawi dan modern. Sedangkan aliran pemikiran klasik yang lebih dulu muncul lebih menekankan pada pendekatan proses dan produksi.
Berikut salah satu pendapat dari Hugo Munsterberg (1863-1961) yaitu Bapak Psikologi Industri. Ia adalah satu satu tokoh pelopor aliran hubungan manusiawi. Dimana pemanfaatan psikologi sangat penting dalam mewujudkan tujuan-tujuan produktivitas dalam suatu manajemen. Dalam bukunya “Psychology and Industrial Efficiency”, Hugo Munsterberg mengemukakan 3 cara untuk meningkatkan produktivitas :
1.    Menempatkan seorang pekerja terbaik yang paling sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan dikerjakannya.
2.    Menciptakan tata kerja yang terbaik yang memenuhi syarat-syarat psikologis untuk memaksimalkan produktivitas.
3.    Menggunakan pengaruh psikologis agar memperoleh dampak yang paling tepat dalam mendorong karyawan.
 
 
Teori Manajemen Klasik Henry Fayol (1841 -1925)
Pada tahun 1916, dengan sebutan teori manajemen klasik yang sangat memperhatikan produktivitas pabrik dan pekerja, disamping memperhatikan manajemen bagi satu organisasi yang kompleks, sehingga beliau menampilkan satu metode ajaran manajemen yang lebih utuh dalam bentuk cetak biru. Fayol berkeyakinan keberhasilan para manajer tidak hanya ditentukan oleh mutu pribadinya, tetapi karena adanya penggunaan metode manajemen yang tepat. Sumbangan terbesar dari Fayol berupa pandangannya tentang manajemen yang bukanlah semata kecerdasan pribadi, tetapi lebih merupakan satu keterampilan yang dapat diajarkan dari dipahami prinsip-prinsip pokok dan teori umumnya yang telah dirumuskan. Fayol membagi kegiatan dan operasi perusahaan ke dalam 6 macam kegiatan :
a) Teknis (produksi) yaitu berusaha menghasilkan dan membuat barang-barang produksi.
b) Dagang (Beli, Jual, Pertukaran) dengan tara mengadakan pembelian bahan mentah dan menjual hasil produksi.
c) Keuangan (pencarian dan penggunaan optimum atas modal) berusaha mendapatkan dan menggunakan modal.
d) Keamanan (perlindungan harga milik dan manusia) berupa melindungi pekerja dan barang-barang kekayaan perusahaan.
e) Akuntansi dengan adanya pencatatan dan pembukuan biaya, utang, keuntungan dan neraca, serta berbagai data statistik.



x

Pertumbuhan Ekonomi dan Konjungtur

Pertumbuhan Ekonomi dan Konjungtur dalam Teori Keynesian
Filed under: Teori Ekonomi 1, Tugas  Leave a comment

Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output  per kapita dalam jangka panjang, bukan suatu gambaran ekonomi pada waktu tertentu, dengan memperhatikan output total (Gross National Product) dan jumlah penduduk. Menurut pandangan para ahli ekonomi klasik, ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu: jumlah penduduk, jumlah persediaan barang modal, luas tanah dan kekayaan alam, serta tingkat teknologi yang digunakan.
Sedangkan Keyness menyatakan, peranan pembelanjaan agregat dalam menentukan tingkat kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja dalam suatu perekonomian pembelanjaan agregat tersebut dibedakan menjadi empat komponen yaitu; pengeluaran konsumsi rumah tangga, investasi swasta, pengeluaran pemerintah, dan ekspor bersih. Teori keynes menekankan bahwa pembelanjaan agregat menetukan tingkat kegiatan perekonomian.
Dalam upaya memaksimalkan pertumbuhan ekonomi, tentunya dipahami bahwa perekonomian tidak selalu berkembang secara teratur dari satu periode ke periode lainnya. Ia selalu mengalami masa naik dan turun. Adakalanya kegiatan perekonomian berkembang dengan sangat pesat sehingga menimbulkan kenaikan harga-harga. Pada periode lainnya perekonomian mengalami perlambatan dalam perkembangannya dan adakalanya ia merosot dan berada di tingkat yang lebih rendah dari periode sebelumnya. Pergerakan naik turun kegiatan perusahaan-perusahaan di dalam jangka panjang dinamakan konjungtur atau siklus kegiatan perusahaan (business cycle).
Menurut Sadono, konjungtur adalah kenyataan yang berlaku dalam perekonomian yang menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi tidak berkembang secara teratur tetapi mengalami kenaikan atau kemunduran yang selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Gambaran atau grafik mengenai konjungtur adalah suatu grafik yang menunjukkan perubahan pendapatan nasional dan kegiatan ekonomi dari satu wkatu ke waktu lain.

Gelombang Konjungtur dibagi menjadi 4 tahap:
1.    Tahap Depresi           = Kemerosotan. Yaitu kemerosotan yang disebabkan antara lain banyak produksi berkurang, banyak pabrik tutup, banyak terjadi pengangguran (baisse atau konjungtur rendah). Tetapi akhirnya keadaan berubah lagi (titik balik bawah/trough).
2.    Tahap Ekspansi        = Kegiatan ekonomi cepat. Yaitu tahap kegiatan ekonomi dalam perkembangan atau pertumbuhan yang cepat sampai tercapainya puncak kegiatan (masa “boom” atau “hausse” = konjungtur tinggi)
3.    Tahap Resesi           = Kelesuan. Yaitu semula kemacetan yang timbul menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi terhenti (stagnasi) dan/atau mundur sedikit. Jika berlangsung lama dan hebat, dimana semua sektor ekonomi ikut lesu maka kelesuan menjadi kemrosotan.
4.    Tahap Recovery      = Pemulihan. Yaitu tahap yang mulai pulih kembali normal.
Yang menjadi pokok permasalahan timbulnya konjungtur menurut teori moneter adalah jumlah uang yang beredar di masyarakat. Menurut John Maynard Keynes, sistem moneter dan kredit bukanlah penyebab terbentuknya gelombang konjungtur, tetapi merupakan akibat. Penyebab utamanya adalah tidak stabilnya investasi. Apabila masyarakat banyak memegang uang, maka akan timbul kecenderungan mempergunakan uangnya untuk keperluan konsumsi dan investasi, sedangkan sebaliknya, apabila uang sulit diperoleh, maka pengeluaran dunia bisnis dan masyarakat juga akan berkurang. Pengurangan jumlah uang sampai pada tingkat minimum ini akan menghalangi upaya dari perusahaan untuk melakukan ekspansi.
Kecenderungan masyarakat untuk mengurangi tingkat konsumsinya dan lebih banyak melakukan kegiatan menabung akan menyebabkan pengeluaran total tidak akan mencukupi untuk mempekerjakan semua angkatan kerja. Besarnya tingkat tabungan masyarakat ini, walaupun bisa dijadikan sebagai sumber investasi, dianggap kurang menguntungkan karena hal tersebut diikuti dengan rendahnya tingkat konsumsi masyarakat. Investasi sebagai kekuatan pendorong yang menentukan konjungtur akan berpengaruh terhadap gerakan konjungtur.
Pengaruh dari adanya konjungtur terhadap perekonomian Indonesia sangat terasa pada neraca perdagangan Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan salah satu negara eksportir terbesar. Selain berpengaruh terhadap neraca perdagangan aktivitas perekonomian di dalam negeri, juga akan berpengaruh terhadap aktivitas usaha, penyerapan tenaga kerja, tingkat investasi, tingkat harga di dalam negeri, dan sebagainya.
Untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah Indonesia melakukan kebijaksanaan fiskal dan moneter seperti deregulasi, diberlakukannya undang-undang perpajakan yang baru, dan menjaga kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang asing.